[Review Film] Twisters (2024), Kembalinya Bencana Puting Beliung dengan Sentuhan Modern
Setelah hampir tiga dekade sejak film ikonik Twister (1996) mewarnai genre film bencana, Hollywood akhirnya menghadirkan penerusnya lewat Twisters (2024). Film ini bukan sekadar remake, melainkan standalone sequel yang membawa beban ekspektasi cukup besar dari para penggemar film klasiknya.
Disutradarai oleh Lee Isaac Chung—yang sebelumnya sukses besar lewat film drama personal Minari (2020)—ada rasa penasaran tersendiri bagaimana seorang sutradara dengan latar belakang film indie yang emosional memimpin proyek blockbuster berbiaya besar. Di bawah naungan produser kawakan Steven Spielberg dan Frank Marshall, Twisters mencoba mengawinkan sensasi visual bencana alam modern dengan cerita humanis di baliknya.
Kisah berpusat pada Kate Cooper (Daisy Edgar-Jones), seorang mantan pemburu badai yang traumatis akibat tragedi masa lalu yang menimpa timnya. Setelah bertahun-tahun hidup aman di New York bekerja di balik layar analisis meteorologi, ia dibujuk oleh sahabat lamanya, Javi (Anthony Ramos), untuk kembali ke lapangan di Oklahoma demi menguji sistem pemindaian badai 3D yang baru.
Di sana, Kate justru bertemu dengan Tyler Owens (Glen Powell), seorang kreator konten media sosial yang menjuluki dirinya “Tornado Wrangler”. Bersama timnya yang eksentrik, Tyler mengejar badai demi konten streaming yang memicu adrenalin.
Menariknya, para pemeran utama di sini tampil dalam tipe peran yang cukup berlawanan dari karya mereka sebelumnya:
- Daisy Edgar-Jones yang biasa bermain dalam drama romantis intens seperti Normal People, kini harus memimpin adegan aksi bencana berlayar lebar. Salah satu film yang ia perankan dan ceritanya cukup membuat saya tertarik adalah Where the Crawdads Sing.
- Glen Powell kembali memamerkan persona pria kharismatik nan percaya diri yang mirip dengan karakternya di Top Gun: Maverick, namun disesuaikan menjadi sosok unik berwujud “cowboy modern” penyuka sains.
- David Corenswet juga hadir dalam peran pendukung sebelum ia resmi debut sebagai sang pahlawan pahlawan Metropolis di film Superman.
Dari segi performa, Glen Powell berhasil mencuri perhatian di sepanjang film. Kharisma alamiahnya membuat karakter Tyler yang di awal terasa menyebalkan dan sekadar clout-chaser berkembang menjadi sosok yang sangat disukai dan berbobot. Chemistry-nya dengan Daisy Edgar-Jones bertumbuh secara organik, memberikan dinamis “opposites attract” yang segar.
Di sisi lain, Daisy Edgar-Jones berhasil menyuarakan rasa trauma, rasa bersalah, dan kecintaan mendalam terhadap sains yang dialami Kate. Sayangnya, karakter Anthony Ramos (Javi) terasa sedikit kaku karena porsi ceritanya terbagi antara dilema moral korporat dan persahabatannya dengan Kate, sehingga eksplorasi karakternya terasa agak menggantung di tengah jalan.
Twisters tidak hanya menjual kehancuran bangunan akibat angin puting beliung, tetapi juga konflik kepentingan antara sains untuk keselamatan warga versus komersialisasi bencana. Kontras antara tim Javi yang didanai investor kaya dengan tim Tyler yang terkesan serampangan namun peduli pada korban lokal menjadi dinamika yang menarik.
Secara visual, Lee Isaac Chung berhasil menyajikan gumpalan awan dan monster badai yang terlihat sangat mengerikan sekaligus megah. Penggunaan efek praktis digabung dengan CGI terasa cukup halus, membuat penonton bisa merasakan hempasan angin dan debu di layar.
Apakah ada plot hole?
Seperti kebanyakan film bencana Hollywood, terdapat beberapa poin logika sains yang dikompromikan demi efek dramatis:
- Penggunaan zat kimia pelumpuh badai: Penjelasan teknis mengenai metode pelumpuhan tornado di paruh akhir film terasa terburu-buru dan terkesan terlalu mudah bekerja di lapangan tanpa hambatan variabel cuaca nyata.
- Kekuatan fisik kendaraan: Mobil modifikasi yang ditancapkan ke tanah sering kali bertahan dari hempasan badai kategori tinggi yang secara logika fisik seharusnya sudah membuat kendaraan tersebut terpental.
Namun, ketidaklogisan kecil ini masih dalam batas wajar untuk standar film hiburan popcorn movie dan tidak sampai merusak alur cerita secara keseluruhan.
Tanpa memberikan spoiler berlebih, poin ending film ini memberikan kesimpulan yang cukup hangat. Klimaksnya menyajikan aksi penyelamatan warga di sebuah bioskop lokal yang mencekam saat tornado menerjang kota. Poin akhirnya berfokus pada resolusi trauma Kate dan penerimaannya terhadap masa lalu, serta keputusan masa depannya dalam dunia meteorologi. Tidak ada cliffhanger yang mengganggu, membuat film ini berdiri kokoh sebagai satu kesatuan cerita yang utuh.
Secara keseluruhan, Twisters adalah tontonan yang cukup menghibur (saat ini masih dapat Anda tonton di layanan streaming berbayar Netflix). Film ini berhasil menghormati warisan pendahulunya sekaligus memberikan warna segar lewat dinamika karakter dan efek visual modern.
Skor: 6,9 / 10