[Review Film] Supergirl (2026), Petualangan Kosmik Sang Krypton yang Berani Berbeda
Setelah kesuksesan babak baru DC Universe lewat Superman, DC Studios kembali memperluas semesta fiksi superhero mereka di layar lebar dengan Supergirl (yang diadaptasi dari komik populer Supergirl: Woman of Tomorrow). Film ini hadir bukan sekadar sebagai pelengkap petualangan sepupunya, Kal-El, melainkan sebagai sci-fi space western yang berdiri cukup independen dengan nada cerita yang jauh lebih kelam dan dewasa.
Disutradarai oleh Craig Gillespie—sutradara yang dikenal lewat karya-karya berkarakter kuat seperti I, Tonya (2017) dan Cruella (2021)—keputusan menunjuknya menjadi angin segar tersendiri. Gillespie yang terbiasa mengolah sosok anti-hero dan figur wanita kompleks mencoba memindahkan keahliannya ke panggung petualangan antariksa berbiaya besar.
Latar Belakang dan Jajaran Pemeran
Berbeda dari Clark Kent yang dibesarkan di bumi dalam kehangatan keluarga Kent, Kara Zor-El tumbuh menyaksikan kehancuran Krypton secara langsung dan bertahan hidup di atas pecahan planet yang hancur. Latar belakang trauma tersebut membentuk Kara menjadi sosok yang lebih dingin, keras, dan sinis.
Petualangan dimulai ketika Kara bertemu dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), seorang gadis alien muda yang menuntut balas atas pembunuhan ayahnya oleh seorang penjahat antartariksa kejam bernama Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts). Bersama anjing supernya, Krypto, Kara terseret dalam perjalanan lintas planet yang penuh bahaya.
Transformasi para pemerannya membawa daya tarik tersendiri:
- Milly Alcock yang melambung lewat peran putri raja yang pemberontak Rhaenyra Targaryen di House of the Dragon, kini kembali membawakan aura “pemberontak” namun dalam balutan kostum superhero berdaya kosmik.
- Matthias Schoenaerts yang langganan bermain dalam film drama/thriller bernuansa berat, tampil intimidatif sebagai villain yang kejam dan oportunis.
- Jason Momoa melakukan perpindahan peran yang cukup kontras di semesta DC—dari raja lautan yang gagah Aquaman, kini menjelma menjadi bounty hunter antariksa yang eksentrik dan brutal, Lobo.
Performa Akting dan Kualitas Karakter
Dari segi akting, Milly Alcock berhasil membuktikan bahwa ia layak memimpin film ini. Ia memberikan interpretasi Kara Zor-El yang sangat kontras dibanding Superman; Kara di sini dipenuhi rasa bersalah, kemarahan, namun tetap menyimpan hati nurani di balik sikap dinginnya. Chemistry-nya dengan Eve Ridley terasa pas sebagai paduan ksatria pelindung dan gadis muda yang haus akan keadilan.
Matthias Schoenaerts tampil cukup solid sebagai ancaman utama. Setiap kali Krem muncul di layar, tensi cerita meningkat secara efektif. Sementara itu, kehadiran Jason Momoa sebagai Lobo memberikan dorongan komedi gelap (dark humor) yang menyegarkan di tengah perjalanan kosmik yang intens, namun bila dibandingkan dengan karakter Lobo ini sendiri yang dalam semesta DC Comics merupakan villain yang cukup terkenal ditambah dengan beberapa trailer yang muncul, harapan saya akan kehadirannya dirasa masih kurang pada film ini.
Intisari Cerita, Visual, dan Catatan Plot Hole
Intisari cerita Supergirl berfokus pada perjalanan spiritual dan penerimaan diri. Film ini bukan sekadar mengejar musuh di luar angkasa, melainkan eksplorasi tentang bagaimana trauma masa lalu tidak harus mendefinisikan masa depan seseorang. Visual lanskap planet-planet asing yang disajikan Craig Gillespie terasa estetis, memadukan gaya western klasik dengan teknologi futuristik.
Apakah ada plot hole?
Meskipun penyajian visual dan karakternya memikat, ada beberapa poin alur cerita yang terkesan kurang konsisten:
- Fluktuasi Kekuatan Under Red Sun: Di beberapa bagian cerita ketika mereka berada di planet dengan radiasi matahari merah atau kondisi ekstrem, tingkat penurunan kekuatan Kara terasa inkonsisten—kadang ia terlihat sangat rentan, namun di momen lain mampu melakukan aksi fisik yang terlalu kuat tanpa penjelasan yang cukup logis.
- Motivasi Penjahat yang Dangkal: Meskipun penampilan Schoenaerts sangat meyakinkan, latar belakang dan eskalasi ambisi Krem di paruh tengah cerita terasa agak terburu-buru, membuat beberapa konflik antardunia terkesan dipaksakan hanya untuk memicu adegan aksi berikutnya.
Penilaian Akhir dan Poin Ending
Poin ending film ini menyajikan penutup konflik yang cukup emosional. Tanpa membeberkan spoiler utama, klimaks pertarungan tidak hanya diselesaikan dengan adu kekuatan fisik semata, melainkan keputusan moral yang mendalam bagi Kara maupun Ruthye. Poin akhirnya menandai kedewasaan Kara sebagai seorang “Woman of Tomorrow”, sekaligus memberikan landasan yang kokoh bagi perannya di semesta DC ke depannya.
Supergirl adalah sebuah eksperimen genre yang berani dari DC Studios. Meskipun alur ceritanya sempat mengalami penurunan tempo di paruh kedua dan beberapa aspek logika teknis yang agak longgar, keberanian film ini keluar dari formula superhero konvensional patut diapresiasi.
Skor: 6,8 / 10