Wiro Sableng : Maut Bernyanyi di Pajajaran

maut bernyanyi di pajajaran

Melanjutkan dari kisah sang pendekar kapak maut naga geni 212, Wiro Sableng, karya penulis alm. Bastian Tito sebelumnya dalam judul 4 Berewok dari Goa Sanggreng, pada kisah yang berjudul Maut Bernyanyi di Pajajaran, Wiro kembali melanjutkan petualangannya untuk mendapatkan Mahesa Birawa setelah turun gunung dari puncak Gunung Gede, selepas dari akhir masa pelatihannya berguru ilmu silat dari gurunya yang juga pernah merajai dunia persilatan eyang Sinto Gendeng.

Dalam cerita ini, masih dengan gaya penulisan sang penulis dalamĀ  menceritakan novel berseri Wiro Sableng, yang dengan detailnya menggambarkan karakter, sifat tiap-tiap karakter, dialog, pertarungan, serta situasi dan kondisi yang terjadi, menjadi salah satu kelebihan untuk pembaca supaya dapat mengimajinasikan apa yang tertulis dalam novel.

Kembali ke kisah dalam cerita Maut Bernyanyi di Pajajaran, sebelum menyelesaikan misi utamanya untuk mencari dengan Mahesa Birawa, Wiro Sableng dalam perjalanannya menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dengan Bergola Wungu di Goa Sanggreng karena kabur ketika bertarung dengan Wiro Sableng di Jatiwalu yang menyebabkan kematian kepada salah satu wanita yang baru dikenalnya Nilamsuri. Namun yang terjadi Bergola Wungu dibantu oleh gurunya Bladra Wikuyana Angin Topan dari Barat beserta murid-muridnya. Pertarungan hebat pun terjadi di Goa Sanggreng, yang menyebabkan pertumpahan darah di sana.

Dalam kisah ini juga diperkenalkan tokoh Dewa Tuak serta muridnya bernama Anggini yang kelak akan mengejar hati sang pendekar muda dan tampan, Wiro Sableng. Eyang Sinto Gendeng pernah berucap kepada Wiro untuk menghentikan manusia jahat yang juga mantan muridnya yaitu Suranyali alias Mahesa Birawa, karena kelak dia akan membuat geger di Pajajaran. Dan memang betul apa yang dikatakan oleh guru eyang Sinto Gendeng, pada novel ini Mahesa Birawa dengan sifat liciknya menghasut orang-orang penting untuk bekerja sama menggulingkan Prabu Kamandaka dari tahtanya.

Namun dengan kecerdikan dan kehebatan Wiro Sableng, semua niat jahat Mahesa Birawa serta komplotannya dapat dilawan, bahkan kekuatan dan kesaktian Wiro Sableng menggunakan kapak maut naga geni 212 diceritakan sangat baik di sini dan terutama ending-nya yang ‘manis’. Sebagai seri kedua dari novel Wiro Sableng, Maut Bernyanyi di Pajajaran cerita dalam pertarungannya lebih baik daripada seri sebelumnya, dan dialog-dialog sumpah serapah serta kekonyolan Wiro Sableng menjadi nilai lebih tersendiri untuk menjadi ciri khas dalam cerita Wiro Sableng.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *