Wiro Sableng : Dendam Orang-Orang Sakti

wiro sableng dendam orang-orang sakti

Pada novel karya alm. Bastian Tito yang berjudul Dendam Orang-Orang Sakti dan merupakan novel serial ketiga dalam kisah pendekar silat bernama Wiro Sableng, adalah cerita lanjutan semenjak kejadian di Djatiwalu (kisahnya dapat dibaca pada novel berjudul 4 Berewok dari Goa Sanggreng). Di dalam cerita Dendam Orang-Orang Sakti terdapat tokoh antagonis utama yang bernama Kalingundil, yang merupakan anak buah dan pemimpin pasukan kelompok dari Mahesa Birawa, tokoh silat ternama yang berasal dari aliran hitam dan salah satu murid dari eyang Sinto Gendeng yang juga guru dari Wiro Sableng serta yang telah membuat kedua orang tua Wiro Sableng sendiri meninggal dunia.

Meski pada cerita sebelumnya tokoh jahat bernama Kalingundil ini telah menderita kekalahan dari pertarungan hebat melawan pendekar kapak maut naga geni 212, Wiro Sableng, dan juga yang telah membuat salah satu dari tangan Kalingundil menjadi buntung akibat dari pertarungan tersebut, namun masih memiliki harapan untuk hidup. Sampai suatu ketika dia menemukan sebuah gua dengan segala misterinya hingga Kalingundil mendapatkan senjata rahasia yang memiliki kehebatan tinggi dan tidak main-main, serta mendapatkan ilmu bela diri yang lebih tinggi lagi dari ilmu yang dimiliki oleh Kalingundil sebelumnya.

Dia -Kalingundil- berlatih sendiri di dalam gua tersebut, setelah keluar dari gua dan dengan memiliki keyakinan yang tinggi untuk membalas dendam kepada orang yang telah membuat fisiknya menjadi sedemikian rupa, akhirnya Kalingundil pun menyusun rencana untuk dapat menyelesaikan misi balas dendamnya itu. Meski sudah merasa menjadi lebih hebat, namun tetap saja dia masih memiliki keraguan untuk dapat membalaskan dendamnya sendirian, karena lawannya adalah Wiro Sableng yang telah berhasil membunuh Mahesa Birawa yang juga merupakan junjungan dari Kalingundil sendiri. Dengan menyusun rencana licik, Kalingundil pun berencana mengumpulkan pendekar-pendekar silat ternama dari seluruh penjuru Jawa untuk dihasut melawan secara bersama-sama untuk melawan Wiro Sableng.

Setelah berhasil mengumpulkan pendekar-pendekar sakti akhirnya semuanya berkumpul di puncak Gunung Tangkuban Perahu pada hari ke tiga belas bulan ke dua belas, sesuai dengan tantangan palsu yang dibuat oleh Kalingundil yang ditujukan kepada Wiro Sableng. Pendekar-pendekar yang berhasil dihasut oleh Kalingundil adalah Tapak Gadjah yang berasal dari Gunung Lawu, Wirasokananta ketua Perguruan Teratai Putih dari Bukit Siharuharu (satu-satunya pendekar dari aliran putih yang dihasut oleh Kalingundil), Begawan Sitaraga dari Gunung Halimun, serta Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel. Semuanya dihasut dengan latar belakang yang berbeda-beda untuk menyelesaikan satu misi yaitu membunuh Wiro Sableng.

Pada novel serial ketiga ini, masih dengan ciri khas penulisan alm. Bastian Tito yang menceritakan secara detail baik dari segi lingkungan cerita, aksi pertarungan dengan segala jurus-jurusnya, fisik tiap-tiap karakter serta dengan khas kata-kata umpatan yang sering dilontarkan oleh karakter-karakter yang ada semuanya digambarkan dengan sangat jelas untuk mendukung cerita. Mungkin ada satu yang kurang dalam cerita Dendam Orang-Orang Sakti ini, yaitu minimnya khas kekonyolan-kekonyolan yang muncul pada Wiro Sableng, karena hal ini adalah salah satu daya tarik pada karakter Wiro Sableng.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *